Tampilkan postingan dengan label Pengetahuan Tentang Jaman Purbakala. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengetahuan Tentang Jaman Purbakala. Tampilkan semua postingan

Perubahan Cuaca Bikin Peradaban Kuno Indus Punah

Senin, 25 Juni 2012

detail berita
Sisa kota Harappa (foto: Gardenvisit)
NEW DELHI - Sekelompok ilmuwan memanfaatkan data arkeologi serta teknologi geosains untuk meneliti penyebab runtuhnya peradaban Harappa di Sungai Indus. Menurut mereka, keruntuhan itu disebabkan terjadinya perubahan curah hujan.

Diwartakan Stone Pages, Senin (25/6/2012), peradaban Harappa merentanng  di wilayah seluas 1 juta kilometer persegi sepanjang dataran Sungai Indus, dari Laut Arab sampai Himalaya dan Ganges. Harappa mengandalkan aliran sungai untuk menghidupi sistem pertaniannya.

Peradaban di Sungai Indus ini merupakan salah satu yang terbesar, namun kurang dikenal jika dibandingkan dengan Mesir dan Mesopotamia. Sebagian besar wilayah itu kini merupakan daerah yang tandus dan kering.

Antara 2003 dan 2008, para ilmuwan tersebut mengembangkan dan menganalisa peta pembentukan tanah di daerah Lembah Indus. Kemudian mereka meggali tanah di sana untuk menentukan asal dan usia endapan yang membentuk kronologi perubahan lanskap selama 10 ribu tahun.

"Kami merekonstruksi lanskap dinamis dataran tempat terbentuknya peradaban Indus 5200 tahun lalu, membangun kotanya dan pelan-pelan hancur pada 3900 dan  3000 tahun lalu," papar ahli geologi sekaligus penulis laporan tersebut, Liviu Giosan dari Woods Hole Oceanographic Institution (WHOI).

Para peneliti juga yakin mereka telah menemukan sungai mitologis Sarasvati. Naskah kuno Sansekerta menggambarkan sungai ini sebagai keperkasaan dan kemuliaan melebihi sungai-sungai lain. Sungai ini telah lama dianggap hilang, namun kini terbukti, di masa kini Sarasvati adalah sungai Ghaggar-Hakra.





Leluhur Terjauh Manusia Berkepala Hiu?

Sabtu, 23 Juni 2012


detail berita
Tulang kepala Acanthodes Bronni (foto: Msnbc)


WASHINGTON - Para ilmuwan yang cukup jauh menelusuri garis keturunan manusia menemukan leluhur yang mirip dengan hiu. Leluhur ini adalah ikan kuno yang telah punah dan diyakini sebagai awal mula spesies bertulang belakang.

Diwartakan Msnbc, Kamis (14/6/2012), sebuah analisis baru menemukan bahwa hewan kontroversial ini ternyata memiliki penampilan yang lebih menyerupai hiu. Tulang hewan ini pun tersusun dari tulang rawan.

"Leluhur seluruh vertebrata (hewan bertulang belakang) yang memiliki rahang memiliki kepala yang menyerupai hiu," ujar peneliti sekaligus ahli biologi vertebrata di University College, John Finarelli.

"Mengingat apa yang kami ketahui tentang keterkaitan ikan purba, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ikan hiu mempertahankan bentuk tersebut, sementara ikan bertulang belakang lainnya menjauh dari kondisi itu," imbuhnya.

Finarelli beserta rekan-rekannya meneliti seekor ikan kuno yang disebut Acanthodes broni. Ikan ini merupakan bagian dari kelompok ikan acanthodian yang termasuk vertebrata paling awal yang memiliki rahang.

Acanthodes broni hidup sekria 290 juta tahun silam. Tepatnya di masa  Paleozoic. Sedangkan keluarga ikan hiu dan keluarga  ikan bertulang belakang saling memisahkan diri sekira 460 juta  tahun yang lalu.

Penelitian tersebut juga merevisi hubungan antara gnathostomes awal atau vertebrata yang memiliki rahang (anggota kelompok ini mulai dari ikan sampai burung, reptil dan manusia). Sedangkan anggota paling primitif dalam kelompok ini adalah ikan berperisai yang disebut sebagai placoderms. Para peneliti menemukan perbedaan placoderms dengan gnasthostomes lain.




Ditemukan Fosil Kura-Kura Sedang Berhubungan Seks

detail berita
(Foto: MSN)
BERLIN - Ilmuwan menemukan fosil berusia puluhan juta tahun lalu di wilayah Messel Pit, Jerman. Temuan tersebut diketahui sebagai fosil kura-kura yang tengah berhubungan intim.

Dilansir MSN, Rabu (20/6/2012), fosil kura-kura tersebut merupakan kasus pertama yang terungkap, yakni hewan dengan tulang punggung ditemukan dalam kondisi kopulasi (kawin). Peneliti mengungkapkan, sepasang kura-kura itu kemungkinan telah terjebak dalam perangkap kematian, karena mereka tenggelam ke lapisan terdalam dari danau, saat mereka sedang melakukan proses perkawinan.

Peneliti mengatakan, lapisan dalam danau ketika itu, mengandung gas vulkanik yang mematikan serta racun lainnya. "Kami menemukan hewan yang meninggal saat kawin," tutur Walter Joyce, ahli fosil kura-kura dari University of Tubingen, Jerman. LiveScience.

Peneliti berfokus pada 47 juta tahun lalu pada suatu spesimen kura-kura punah (Allaeochelys crassesculpta) yang ditemukan di  Messel Pit. Peneliti mengatakan bahwa fosil kura-kura yang ditemukan itu memiliki ukuran panjang tubuh 20 sentimeter.

"Kura-kura itu tampak sangat mirip dengan kerabat terdekat mereka, (yakni) kura-kura berhidung babi (Carettochelys insculpta) dari New Guinea dan Australia," ujar Joyce.

Ilmuwan menemukan fosil tersebut di Messel Pit, yang sebelumnya merupakan danau kawah vulkanik di lingkungan tropis. Di tempat itu, terdapat penggalian untuk minyak. Namun selama bertahun-tahun, wilayah tersebut merupakan tempat yang biasa dikunjungi peneliti untuk menggali informasi seputar lingkungan hidup zaman Eosen (sekira 36 juta sampai 57 juta tahun lalu).

Zaman Eosen merupakan waktu di mana hewan mamalia mulai muncul. Beberapa hewan tersebut diantaranya kuda, reptil, primata serta kelelawar. Selain itu, terdapat pula burung, semut dan lebah madu.

Dari Wikipedia, kura-kura adalah hewan bersisik berkaki empat yang termasuk golongan reptil. Bangsa hewan yang disebut (ordo) Testudinata (atau Chelonians) ini khas dan mudah dikenali dengan adanya ‘rumah’ atau batok (bony shell) yang keras dan kaku.



Ilmuwan Temukan Kuburan Nenek Moyang Hewan Purba Tertua

detail berita
Diprotodon (Foto: Sky)
CANBERRA - Ilmuwan asal Australia menemukan kuburan nenek moyang hewan purba raksasa, wombats (hewan berkantung dan berkaki pendek) raksasa di pedalaman Queensland. Seukuran tubuh badak, fosil dari ordo Diprotodon itu diperkirakan telah ada sejak 100 sampai 200 ribu tahun lalu.

Dilansir Sky, Sabtu (23/6/2012), situs bersejarah tersebut menyimpan hingga 50 tulang-belulang Diprotodon yang telah ada ratusan ribu tahun lalu. Penggalian yang dipimpin oleh ilmuwan, Scott Hocknall dari Queensland Museum di Brisbane mengungkapkan, salah satu spesimen yang dinamakan Kenny, merupakan Diprotodon paling besar yang pernah terlihat.

Tulang rahang Kenny mencapai panjang 70 sentimeter (28 inci). Kuku dan kantung besar yang terlihat di bagian tubuhnya dikatakan cukup mampu untuk mengangkut manusia dewasa. Ilmuwan mengibaratkan Diprotodon ini sebagai "persilangan antara wombat dan beruang, namun berukuran seperti badak".

Temuan itu bisa dijadikan petunjuk bagi ilmuwan untuk mengetahui bagaimana mega-wombats (wombat raksasa) ini hidup dan apa yang menyebabkan kematiannya. "Ini adalah tambang emas (bagi) ahli paleontologi, di mana kami dapat melihat apa yang megafauna ini lakukan, bagaimana perilaku mereka, dan apa ekologi mereka," ujar Hocknull.

"Dengan begitu banyak fosil, ini memberi kami kesempatan unik untuk melihat hewan tersebut di lingkungan mereka. Sehingga, kami bisa merekonstruksi (hewan tersebut)," tuturnya.

Diprotodon merupakan marsupial terbesar yang pernah berkeliaran di Bumi. Berat hewan tersebut mencapai 2,8 ton, hidup antara dua juta sampai 50 ribu tahun lalu. Hewan purba tersebut diduga mati, pada waktu suku-suku asli pertama kali muncul di wilayah Queensland, Australia.




Reptil Lebih Dahulu Bersayap Ketimbang Dinosaurus

Kamis, 29 Maret 2012

detail berita
Longisquama insignis (foto: Wikipedia)
WASHINGTON - Fosil bulu menunjukkan bukti bahwa burung merupakan keturunan dinosaurus. Tapi ada satu hewan punah yang tidak termasuk dinosaurus dan memiliki struktur tubuh menyerupai sayap.

Diwartakan New Scientist, Selasa (27/3/2012), hewan tersebut bernama Longisquama insignis. Mereka hidup di masa 230 sampai 240 juta tahun yang lalu, sebelum dinosaurus berevolusi. Selain itu mereka juga ada di masa 70 sampai 80 juta tahun yang lalu, sebelum fosil pertama burung berbulu.

Beberapa paleontolog berpendapat bahwa fosil Longisquama yang ditemukan di Kyrgystan pada 1960 itu, hanya merupakan hewan yang mati dibawah sejenis tanan eksotis. Jadi bulu yang namak di punggungnya bukan bagian tubuh Longisquama. Tapi ada juga yang berpendapat bahwa bulu sayap Longisquama itu nyata. Analisis terbaru membuktikan kedua pendapat itu salah.

"Perpanjangan kulit yang aneh pada Longisquama bukanlah tulang maupun bulu. Struktur tubuh tersebut kemungkinan berhubungan dengan evolusi awal sayap dinosaurus dan pterosaurus," terang Michael Buchwitz dari Freiberg University of Mining and Technology.

Analisa Buchwitz menunjukkan bahwa struktur dasar bagian tubuh itu melekat begitu dekat pada tulang belakang. Artinya struktur tubuh itu tertanam di balik lapisan kulit. Namun, bagian tubuh itu tidak memiliki struktur seperti bulu yang sebenarnya, dan diperkirakan terbentuk menggunakan gen pertumbuhan yang sama dengan pembentuk bulu.

Tulang belulang Longisquama yang ada masih kurang lengkap untuk bisa menentukan posisinya dalam evolusi. Tapi Buchwitz berpendapat bahwa retil tersebut bisa saja berada di garis keturunan yang menghasilkan pterosaurus, buaya, dinosaurus dan burung.




Sumber:Okezone.com

Teleskop Tua Ini Terbuat dari Tulang

detail berita
Teleskop Terbuat dari Tulang (Foto: Softpedia.com)
AMSTERDAM - Para peneliti telah menemukan lima teleskop yang unik di wilayah Amsterdam, Belanda. Kelima teleskop yang terbuat dari tulang sapi ini memiliki ukuran 3 sampai 5 inci.

Seperti dilansir Softpedia, Selasa (27/3/2012), teleskop ini diprediksi telah berumur ratusan tahun dan diduga telah ada sejak abad ke 18. Wilayah amsterdam ketika itu diramalkan merupakan kota yang sangat makmur, sebagai pusat perdagangan global serta berkumpulnya prara pengrajin, seniman dan sebagainya.

Peneliti tersebut percaya teleskop dari tulang ini tidak digunakan untuk mengamati bintang, melainkan dipakai untuk melihat objek baik di daratan atau lautan. Peneliti juga yakin teleskop saat itu merupakan benda yang digunakan secara ekslusif oleh kalangan elit di zamannya.

Hal yang menarik dari teleskop ini adalah bahannya yang berupa tulang. "Ini tulang tertentu dari sapi, tulang metatarsal (bagian tulang yang terletak di kaki), sebenarnya (bentuknya) cukup lurus dan bulat. Ini adalah bentuk bagus untuk membuat teleskop, lurus dan (memiliki) rongga sempit serta bulat," pungkas Marloes Rijkelijkhuizen, arkeolog dari Amsterdam University.

Selain itu, Marloes juga percaya masing-masing teleskop memiliki sepasang lensa sama seperti lensa pada teleskop Galileo, yang dipakai untuk mengamati planet Jupiter serta empat bulan terbesar lainnya.

Menurut Marloes, sistem lensa ini terdiri dari objek cembung dan cekung. Menetapkan jenis teleskop ini tentu tidak mudah, karena hanya dua dari lima artefak yang ditemukan masih memiliki lensa. Sementara itu, teleskop yang berukuran panjang memiliki dua lensa.

Para ilmuwan juga menemukan sebuah fitur yang berfungsi sebaga aperture (bukaan lensa) yaitu sisipan yang terbuat dari tulang dan memiliki lubang kecil. Penelitian yang mencakup penemuan-penemuan baru ini diterbitkan dalam edisi terbaru di Journal of Archaeology.



Sumber:Okezone.com

Hewan-hewan Prasejarah Yang Memesona

Minggu, 25 Maret 2012

1. Deinocheirus

Satu-satunya fosil yang ditemukan dari Dinosaurus ini hanyalah sepasang lengan dan beberapa bagian tulang belakang. Kemungkinan Deinocheirus merupakan kerabat dari Ornithomimosaur, setidaknya itulah anggapan para ahli paleontologi.
deinoe1-tm
Ia merupakan genus dari Dinosaurus Theropoda besar yang hidup pada periode Cretaceous akhir dan populasinya tersebar di selatan Mongolia. Lengannya mungkin terlalu panjang untuk tubuhnya dan cakar tangannya itu semakin mengindikasikan bahwa dirinya merupakan salah satu Dinosaurus yang mematikan.
Namun sebenarnya, kegunaan “senjata” tersebut masih banyak diperdebatkan. Beberapa peneliti mengatakan cakar itu digunakan sebagai alat utama untuk berburu.
Beberapa lainnya mengatakan cakar terlalu tumpul, sehingga hanya digunakan sebagai senjata defensif. Bahkan ada pendapat yang mengatakan bahwa Deinocheirus menggunakan lengannya yang besar untuk memanjat pohon, meskipun hipotesis ini secara luas diabaikan.

2. Diprotodon

Sebelum manusia pertama menginjakkan kaki di Benua Australia sekitar 40.000 tahun lalu, beraneka ragam hewan berkantung berukuran besar pernah hidup di sana. Salah satu yang terbesar ialah Diprotodon.
diprotodon
Hewan berkantung yang satu ini diperkirakan ukurannya sebesar seekor Kuda Nil dewasa. Dilihat dari bentuk morfologinya, ia terlihat mirip seperti seekor Wombat, yaitu spesies hewan berkantung Australia, namun berukuran raksasa.
Sama seperti kebanyakan hewan-hewan berkantung lainnya, Diprotodon juga mengkonsumsi dedaunan sebagai makanan utamanya. Meskipun mereka bukanlah hewan yang memiliki pergerakan gesit seperti Kanguru, namun ukuran badannya yang besar dan kuat membuat para predator sangat sulit untuk menaklukannya.

3. Moropus

Ketika para ilmuwan menemukan fosil Moropus untuk pertama kalinya, mereka seakan sulit mempercayai bentuk morfologi dari makhluk yang satu ini. Hewan purba dengan bentuk kepala menyerupai kepala kuda ini benar-benar memiliki bentuk tubuh yang aneh.
moropus-copy
Para Ilmuwan mendeskripsikannya sebagai “campuran” dari tiga binatang, yaitu Kuda, Jerapah kerdil, dan Beruang. Kepalanya yang mirip kuda serta badannya yang menyerupai badan seekor beruang dihubungkan oleh leher yang lumayan panjang bak leher jerapah kerdil.
Dengan kuku-kukunya yang panjang nan tajam, serta kemampuan berlari dengan baik tentunya ia memiliki pertahanan diri yang baik untuk menghindari ancaman para predator. Moropus hidup di wilayah Asia selatan dan barat sekitar 12.000 tahun lalu.

4. Ambulocetus

Inilah salah satu makhluk purba yang banyak diklaim para penganut Neo-Darwinisme sebagai bukti kuat periode transisi spesies makhluk laut ke darat. Ambulocetus, hewan purba dengan perawakan mirip campuran nenek moyang paus dan berang-berang hidup di wilayah yang kini disebut sebagai Pakistan modern sekitar 50 juta tahun lalu.
310889932_6f557c15c3_o
Panjang tubuh seekor Ambulotecetus dewasa diperkirakan sekitar 12 kaki. Bentuk kepalanya besar dengan rahang yang panjang. Gigi-gigi tajamnya didesain untuk menangkap dan mencengkram mangsanya. Didalam air, ia dapat bergerak dengan gesit berkat bantuan ekornya yang digunakan sebagai “motor” bagi tubuhnya.

5. Lystrosaurus

Sebelum kemunculan Dinosaurus, kehidupan makhluk di Bumi pernah diramaikan oleh beberapa hewan aneh yang menyerupai reptil. Salah satunya ialah Lystrosaurus.
lystrosaurus
Hewan purba yang cukup menarik karena bentuk tubuhnya yang aneh ini hidup di habitat berawa-rawa, namun ia juga tidak masalah jika harus terpaksa mendiami tempat-tempat yang tergolong kering. Lystrosaurus diperkirakan mendiami bumi sekitar 230 juta tahun yang lalu.

6. Phorusrhacos

Sekitar 20 juta tahun yang lalu, Amerika selatan merupakan daratan yang memiliki begitu banyak variasi spesies burung dan mamalia. Salah satunya yang cukup terkenal ialah spesies burung karnivora bernama Phorusrhacos.
evi_phorusrhacos_large
Ia adalah spesies burung yang tidak dapat terbang. Tinggi badannya bisa mencapai 10 kaki (3 meter). Meskipun tidak dapat terbang, mereka adalah pelari-pelari cepat. Ini menjadikan Phorusrhacos dapat dengan mudah untuk menangkap mangsanya.
Spesies Phorusrhacos diperkirakan eksis hingga 3 juta tahun yang lalu. Para ilmuwan memperkirakan kepunahan Phorusrhacos disebabkan oleh munculnya beberapa predator lain yang bermigrasi dari Amrika Utara ke Selatan setelah keduanya dihubungkan oleh daratan Amerika tengah yang muncul ke daratan.

7. Mammoth

Saya yakin pasti kalian sudah tidak asing lagi dengan hewan legendaris yang satu ini. Mammoth merupakan salah satu hewan purba yang begitu populer. Fisiknya menyerupai gajah namun memiliki bulu lebat disekujur tubuhnya.
JB003562
Perawakannya yang besar serta tambahan “senjata” berupa gading yang begitu panjang membuatnya begitu sulit untuk ditaklukkan predator manapun. Lukisan-lukisan yang di goreskan pada dinding-dinding gua oleh para manusia purba banyak menggambarkan betapa sulitnya hewan ini untuk ditaklukkan oleh mereka.
Mammoth merupakan hewan yang mendiami sekitar pulau Wrangel di pesisir utara Siberia. Banyak Ilmuwan percaya, generasi terakhir Mammoth masih dapat dijumpai sekitar 4000 tahun yang lalu saat konstruksi piramida Khufu di Giza, Mesir telah selesai dibangun.

8. Harimau Gigi Pedang

Mereka merupakan salah satu hewan zaman es yang begitu terkenal. Salah satu predator terganas nan mematikan yang pernah menginjakkan kakinya di bumi ini. Harimau Gigi Pedang mendiami wilayah barat Amerika Serikat pada akhir zaman es, tetapi mereka juga tersebar di beberapa wilayah Amerika Utara lainnya serta beberapa berdiam di wilayah Amerika Selatan.
10_000_bc-2
Diketahui, terdapat 2 Genus dari hewan ini, yaitu Genus Smilodon dan Genus Homotherium. Pada umumnya jenis dari Genus Smilidon panjang taringnya bisa mencapai lebih dari 18 centimeter, sedangkan untuk genus Homotherium memiliki panjang taring sekitar 10 centimeter. Hewan ini memburu kuda, banteng, antelope sebagai makanannya.

9. Deinotherium

Deinotherium merupakan salah satu mamalia darat terbesar yang pernah menginjakkan kakinya di Bumi. Makhluk prasejarah yang hidup di kala Miosen tengah hingga awal Pleistosen ini pada umumnya memiliki tinggi 3,5 – 4,5 meter (ukuran Deinotherium dewasa) dengan berat berkisar antara 5 – 14 ton.
deinotherium_small-tm
Deinotherium yang merupakan kerabat dekat gajah modern pada dahulu kala hidup tersebar di beberapa wilayah Asia, afrika, dan Eropa. Bentuk fisiknya tidak jauh berbeda dengan gajah modern, hanya saja ia memiliki belalai yang lebih pendek dan gading yang terletak di rahang bagian bawah.
Gading ini mungkin digunakan sebagai alat untuk menggali tanah untuk mendapatkan akses ke akar-akaran dan sayuran. Genus Deinotherium memiliki tiga spesies yang telah dikenali, dan semuanya memiliki ukuran yang besar. Spesies itu diataranya Deinotherium giganteus, Deinotherium indicum, dan Deinotherium bozasi.

10. Therizinosauridae

Therizinosauridae merupakan Dinosaurus dari keluarga Theropoda yang hidup pada akhir periode Cretaceous (99.6 – 65.5 juta tahun silam). Tidak seperti kebanyakan Theropoda yang merupakan karnivora, Therizinosauridae adalah herbivora (walaupun beberapa diantaranya diketahui sebagai omnivora).
therizinosaurusJC
Perlu digaris bawahi, Therizinosauridae merupakan nama dari suatu familia dalam klasifikasi ilmiah. Nama ini pertama kali digunakan oleh Evgeny Maleev pada tahun 1954 untuk memasukkan Therizinosaurus cheloniformis (Jenis Theropoda yang masih memiliki banyak teka-teki) kedalam suatu familia bersama dengan Segnosaurus dan Nothronychus.
Keluarga Therizinosauridae memiliki bentuk fisik yang eksentrik. Pada umumnya mereka berleher panjang dan memiliki bulu. Selain itu cakar-cakar mereka juga cukup besar, mungkin ada yang lebih dari satu meter panjangnya.

11. Epidexipteryx

Epidexipteryx adalah genus Dinosaurus maniraptorian kecil. Hewan prasejarah yang hidup di wilayah China sekitar 152 – 168 juta tahun silam ini merupakan salah satu Dinosaurus terkecil yang pernah ada.
dinocomp-tm
Ukuran dewasanya hanya mencapai 10 inci (kurang lebih seukuran burung merpati). Salah satu daya tarik dari Epidexipteryx adalah empat bulu panjang yang tumbuh di bagian ekornya.
Tidak seperti bulu yang biasa kita temui pada hewan-hewan kelas aves, struktur bulu pada Epidexipteryx ini layaknya seperti satu lembaran pita yang berdiri tegak memanjang ke atas. Namun karena kurangnya remiges (bulu sayap) membuat hewan ini tidak dapat terbang.

12. Longisquama insignis

Hidup pada pertengahan hingga akhir periode Triassic (230 – 225 juta tahun silam), Longisquama insignis merupakan kadal purba yang begitu menarik karena ia memiliki serangkaian “bulu” panjang yang berdiri tegak disepanjang punggungnya.
Struktur “bulu” tersebut hingga kini masih menjadi bahan perdebatan dikalangan para peneliti. Beberapa peneliti meyakini bahwa struktur panjang yang tumbuh di punggung Longisquama bukanlah sejenis bulu, melainkan sisik yang umumnya dapat kita temukan pada reptil seperti Iguana.
longisquama-tm
Bedanya sisik pada Lingisquama lebih panjang dan berbentuk sedikit janggal. Namun menurut pendapat ahli paleontologi, N. Frasher didalam bukunya Dawn of The Dinosaurs: Life in the Triassic, struktur memanjang tersebut bukanlah bagian dari tubuhnya.
Struktur ini kemungkinan hanyalah sejenis tumbuhan pakis yang ikut menjadi fosil bersamanya lalu kemudian disalahtafsirkan. Pendapat Frasher mungkin diperkuat oleh fakta struktur fosil yang ditemukan pada beberapa hewan memang sering tidak ada kaitannya dengan fosil hewan tersebut.

13. Sharovipteryx

Sharovipteryx merupakan reptil yang hidup sejaman dengan Longisquama, yakni pada pertengahan hingga akhir Triassic. Makhluk purba yang memiliki panjang tubuh sekitar delapan inci dengan berat 7,5 gram ini sangat unik karena ia memiliki ukuran kaki belakang yang sangat lebar dibanding kaki depannya.
Kaki belakang yang begitu lebar, ditambah dengan adanya membran yang tumbuh diantaranya membuat ia seolah-olah memiliki sayap yang dapat digunakan untuk terbang. Walaupun pada kenyataannya hewan ini memang tidak dapat terbang layaknya burung, namun bukan berarti bentangan selaput sayap pada kakinya itu menjadi tidak berguna.
dinocomp-tm
Penelitian terbaru menyebutkan berkat selaput sayap ini, Sharovipteryx dapat lebih gesit pada saat meluncur dari suatu tempat ke tempat lainnya dikarenakan mekanisme kerjanya yang sangat mirip dengan delta wing pada pesawat tempur modern.
Beberapa peneliti menganggap hewan ini mungkin memiliki hubungan yang erat dengan pterosaurus mengingat meraka sama-sama memiliki membran penerbangan yang tumbuh diantara kedua kakinya, walaupun hal ini masih sangat kontroversial.

14. Pterodaustro

Pterodaustro memiliki tengkorak yang sangat panjang, yakni sekitar 29 cm. Moncongnya mendominasi 85% dari total panjang tengkorak. Keanehan bentuk fisiknya yang lain yaitu set gigi yang tidak biasa.
picture-1-139-tm
Gigi yang tumbuh dirahang bagian bawah bagaikan ribuan sekat bulu yang kemungkinan ia gunakan sebagai alat untuk menyaring plankton, ganggang, maupun makhkluk kecil lainnya dari air.
Gigi yang jumlahnya ribuan tersebut tumbuh dalam dua alur panjang yang sejajar dengan tepi rahang. Panjangnya sekitar 3 cm dengan lebar antara 0,2 – 0, 3 milimeter. Awalnya diduga struktur ini bukanlah gigi, namun setelah dilakukan beberapa penelitian dugaan tersebut akhirnya luntur. Struktur itu benar-benar merupakan gigi normal karena terdapat enamel, dentin dan pulpa.

15. Microraptor

Genus Microraptor merupakan salah satu jajaran Dinosaurus kecil. Mereka hidup sekitar 120 juta tahun yang lalu dan populasinya tersebar di beberapa wilayah China. Jenis ini umumnya memiliki empat buah sayap dengan satu ekor yang memanjang.
Kendati memiliki dua pasang sayap, Microraptor tidak dapat terbang. Sebaliknya, ia mungkin hanya meluncur dari suatu tempat ke tempat lainnya seperti seekor tupai terbang.
microraptor_3_-tm
Sebagian kalangan evolusionis menganggap hewan ini merupakan makluk peralihan dinosaurus ke burung, dimana dengan kemampuan meluncurnya itu dapat berkembang menjadi sistem penerbangan.
Beberapa peneliti berpendapat, hewan ini kemungkinan banyak menghabiskan hidupnya di pepohonan, merujuk fakta bahwa sayap Microraptor menghalangi kemampuan mereka untuk berjalan di atas tanah.

16. Amphicoelias fragillimus

Fosil yang sukar dipahami ini ditemukan oleh ahli paleontologi terkenal Edward Drinker Cope. Cope telah banyak menemukan fosil-fosil prasejarah, namun yang satu ini adalah yang paling aneh.
800px-human-amphicoelias_size_comparison-tm
Bagaimana tidak? satu-satunya fosil aneh tersebut ialah potongan tulang belakang yang memiliki panjang keseluruahan diperkirakan 40 – 60 meter. Apabila ukuran ini benar-benar valid, itu menjadikan Amphicoelias fragillimus mungkin merupakan makhluk terpanjang dan terberat yang pernah ada (bersaing dengan paus biru dan Argentinosaurus).
Namun sekali lagi, fosil tersebut masih banyak menjadi perdebatan karena sulitnya untuk mengidentifikasi dari penemuan fosilnya yang sangat-sangat minim. Apakah makhluk ini merupakan hewan terbesar yang pernah berjalan di bumi ataukah hanya kesalah pahaman dan hanya sekedar tipuan.

sumber: http://strano66.blogspot.com/2010/08/hewan-hewan-prasejarah-yang-mempesona.html

Bacaan yang tidak tertulis

Selasa, 20 Maret 2012

Penemuan berguna dari alfabet, dan yang menyusulnya, yaitu bacaan, merupakan langkah pasti menuju keperadaban. Orang-orang Sumeria dan Mesir, yang jelas telah mengembaangkan tata cara mereka menulis pada jaman 4000 tahun sebelum Masehi, maju dengan pesatnya setelah pengembangan itu.
Anggapan demikian itu, rupa-rupanya tidak berlaku sama sekali bagi peradapan Bangsa Inca. Dalam kenyataanya, orang-orang Inca, yang benar-benar melaksanakan separuh jumlah macam tumbuh-tumbuhan yang kita kenal dan yang telah membangung jalan-jalan besar yang terpanjang di dunia, tidak mempunyai tata cara menulis.

Mengapakah bisa ada keadaan, bahwa kebodohan, yang tidak masuk akal itu, terdapat pada Bangsa yang berkembang demikian pesat?, keadaan itu kelihatannya disebabkan, karena mereka, berdasarkan ketakhyulan mereka, mempunyai rasa takut terhadap tulisan. Sebuah cerita kuno bangsa Inca mengatakan, bahwa, setelah terjadinya bencana wabah yang membinasakan, sebuah Sabda Dewa melarang digunakannya tulisan, diserta ancaman hukuman siksa yang mengerikan.

Untuk mengatasi persoalan tidak adanya alfabet, maka orang-orang Inca kemudian menggunakan tali “Quipu” dengan banyak mata ikatan yang berwarna-warni, dan dengan jarak yang berbeda-beda antara mata ikatan yang satu dengan yang lainnya. Karen adanya cara dan alat yang aneh itu, maka mereka mempunya bacaan tanpa mempunya tulisan.

Suatu Alfabet yang Berumur 15.000 Tahun?

Siapakah yang telah membangun pabrik di Medzamor, di Armenia, kira-kira 5000 tahun yang lalu? Siapakah yang telah merencanakan peta-peta Piri Reis, yang menunjukkan adanya suatu pengetahuan geografi dunia yang luasnya sama dengan pengetahuan kita sekarang?


Para sarjana, secara resmi, tidak begitu memperhatikan persoalan-persoalan itu, yang penyelidikannya masih banyak menghadapi rintangan. Para penyelidik bebas masing-masing mengembangkan suatu teori, yang bersifat sangat pribadi, berdasarkan penyelidikan-penyelidikan dengan tekun dan sabar.



Suatu Alfabet yang Berumur 15.000 Tahun?
Bukti di bidang argeologi, bahwa orang-orang purbakala telah menggunakan suatu alfabet di jaman Neolitik (= Jaman Batu yang ke dua), diduga telah diketemukan di Perancis pada permulaan abad ini. Pada tanggal 1 Maret 1924 Claude Fradin dan cucunya laki-laki, Emile, sedang berjalan-jalan di luar kota di sekitar desa kecil Glozel, di dekat Ferriere sur Sichon, di Allier. Tiba-tiba mereka melihat benda-benda aneh; mereka sangat heran menemukan batu-batu bata, tanda-tanda peringatan terukir, dua bua alat pemotong, dua buah kapak kecil dan dua buah kerikil datar yang masing-masing ada tulisannya.

Dan itu merupakan permulaannya. Dr. Morlet, yang bertempat tinggal di daerah itu, di beritahu tentang penemuan yang misterius itu. Dia merupakan orang, yang selalu merasa sangat tertarik pada keanehan, pada hal-hal yang belum, hal-hal yang luar biasa, dan dia lanjutkan penggaliannya. Demikianlah dia kemudian dapat menggali lebih dari seratus buah tanda peringatan, alat kerja dari batu kecil, barang-barang pecah belah dengan corak yang belum pernah dijumpai dimana-pun, dan akhirnya kerikil-kerikil datar yang terukir. Akhli-akhli yang sudah terkenal, seperti Camille Julian dan Salomon Reinach, menyatakan, bahwa benda-benda yang telah diketemukan itu berasal dari jaman 15.000 tahun yang lalu. Pada benda-benda tertentu, beberapa orang sarjana melihat adanya susunan-menurut-garis huruf-huruf yang menyerupai alfabet, seperti V W L H T I K O C J X. Akan tetapi, tidak lama kemudian, penemuan di Glozel itu mendapat tantangan keras dari para akhli dari Lembaga Internasional mengenai Antropologi, dan dari “Identite judiciaire” Perancis.

Mereka menyatakan bahwa semuanya itu merupakan penipuan, dan menentukan, bahwa benda-benda galian itu tidak merupakan “benda antik”.

Terlepas dari tulisan, yang meragukan dan ditentang itu, orang-orang purbakala nampaknya mempunyai suatu berbendaharaan-kata dan bacaan, yang jauh dari luas daripada kepunyaan kita sekarang. Orang-orang Indian  
Amerika mempunyai nama yang berlainan untuk tanaman yang sama, atau pohon yang sama, menurut musimnya, sedangkan kita sekarang menyatakan perobahan sebatang pohon yang sama dimusim rontok dan musim semi, cukup dengan menggunakan daka sifat didepan nama pohon itu.

Makhluk logam, yang mengerikan Menyerang para Argonaut

Dibidang teknik masih banyak hal-hal yang mengejutkan dijumpai oleh para akhli sejarah. Beberapa buah bukti membuat kita beranggapan, bahwa manusia moderen jaman sekaran ini hanyalah “menemukan kembali” apa yang telah diketahui oleh manusia jaman dahulu.

Banyak cerita kuno, yang menunjuk kearah itu. Plato, misalkan, mengatakan, bahwa daedalus, ayah Ikarus, rupa-rupanya membuat mesin-mesin serupa manusia yang dapat bergerak sendiri. Yang mungkin dapat kita sebut “Robot”. Dan akhli falsafat yunani itu melanjutkan berkata, bahwa mesin-mesin itu demikian cepat bergeraknya, dan tak dapat berdiam diri, sehingga harus diadakan penjagaan agar mereka tidak berlari pergi. Sayangnya adalah, bahwa Plato tidak menjelaskan secara terperinci tentang alat-alat, yang menyebabkan mesin-mesin itu dapat bergerak sendiri. Apakah daya gerak itu berasal dari mekanisme yang telah disempurnakan ataukah karena digunakannya baterai?

Menurut cerita kuno Yunani tentang penaklukan “Golde Fleece” (“kulit domba emas”), maka para argonaut yang datang di Kreta, diperingatkan oleh Medea, si ahli nujum, bahwa sebuah makhluk logam, yang mengerikan, akan menyerang mereka. Apakah yang dimaksudkan oleh medea itu “robot”, seperti dinyatakan oleh seorang penyelidik bebas Inggris Arthur Waight?

Komputer pada jaman purba Komputer pada jaman purba

Dalam tahun 1900, para penyelam bunga karang dekat Antikitera, menemukan bekas-bekas sebuah perkakas dari logam, yang sudah berkarat, didasar laut. Para sarjana mula-mula mengira, bahwa apa yang telah diketemukan itu merupakan sisa-sisa pesawat ruang angkasa dari tahun 65 sebelum Masehi. Dalam tahun 1959, seorang sarjana Inggris, Solla Price, menimbulkan suatu kejutan dunia, ketika dia dalam bulan Maret 1962 membuat pengumuman sebagai berikut: “Kelihatannya, bahwa benda itu benar-benar merupakan se buah Komputer, yang dapat menentukan dan menguraikan gerak matahari, bulan, dan mungkin juga gerak  planit-planit”.

Sarjana akhli itu merasa dirinya sangat rendah, dan hanya dapat menyatakan kekaguman dan hormatnya kepada nenek moyang kita, yang telah memiliki ilmu pengetahuan demikian tinggi, walaupun rasa hormat itu disertai dengan sedikit rasa takut.

Dalam bulan Juni 1959 dia menulis dalam “Scientific American” sebagai berikut: “Adalah sangat menakutkan untuk mengetahui, bahwa dekat sebelum peradaban mereka yang tinggi itu runtuh, Bangsa Yunani kuno telah dapat mencapai apa yang baru sekarang kita capai, bukannya hanya dalam cara berfikir, melainkan juga dalam ilmu pengetahuan Teknologi”.

Apa yang nyata terjadi di Yunani kuno itu, terjadi juga di Amerika Kuno. Seorang penulis yang bernama Gareilaso de La Vega, seorang anak laki-laki dari seorang laki-laki Spanyol dan wanita puteri bangsa Inca, menguraikan pada permulaan abad ke 17, bahwa bangsa Inca di lembah Rimac mempunyai sebuah patung “yang berbicara dengan menjawab pertanyaan-pertannyaan seperti sabda Dewa Apollo di Delphi”.
Sayangnya, Garcilaso adalah tidak cermat, dan dia sama sekali tidak bercerita tentang caranya patung itu bekerja, walaupun kesemuanya itu mengigatkan kita kepada komputer-modern kita.
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. ViTy'S News - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Inspired by Sportapolis Shape5.com
Proudly powered by Blogger